<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Buletin An-Nashihah</title>
	<atom:link href="http://nashihah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nashihah.wordpress.com</link>
	<description>Menebar Sunnah Sesuai Pemahaman Sahabat</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2009 16:12:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nashihah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/1a493df520e30c8d82344187d6fee803?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Buletin An-Nashihah</title>
		<link>http://nashihah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nashihah.wordpress.com/osd.xml" title="Buletin An-Nashihah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nashihah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>TUJUAN HIDUP</title>
		<link>http://nashihah.wordpress.com/2009/10/22/tujuan-hidup-2/</link>
		<comments>http://nashihah.wordpress.com/2009/10/22/tujuan-hidup-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 16:12:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nashihah</dc:creator>
				<category><![CDATA[01. Januari]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nashihah.wordpress.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya pujian hanya milik Allah. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah, keluarga beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau. Para pembaca yang budiman, semoga Allah Ta&#8217;ala senantiasa membimbing dan memberi taufiq kepada kita untuk dapat mentaati-Nya. Sesungguhnya kehidupan kita di alam ini hanyalah sementara, tidak kekal selamanya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman yang artinya: “Setiap yang bernyawa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nashihah.wordpress.com&amp;blog=6686808&amp;post=126&amp;subd=nashihah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;">Sesungguhnya pujian hanya milik Allah. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah, keluarga beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau. </span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Para pembaca yang budiman, semoga Allah <em>Ta&#8217;ala</em> senantiasa membimbing dan memberi taufiq kepada kita untuk dapat mentaati-Nya. </span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Sesungguhnya kehidupan kita di alam ini hanyalah sementara, tidak kekal selamanya.<span id="more-126"></span> Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya: <em>“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati</em>.” (QS. Al-Ankabut: 57) dan “<em>Hanya kepada-Nya kamu semua akan kembali. Itu merupakan janji Allah yang benar</em>.” (QS. Yunus: 4). </span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Dan keberadaan kita di dunia ini bukanlah untuk kesia-siaan, bukan pula tiada guna atau tanpa tujuan. Kita diciptakan bukan hanya sekedar untuk hidup dan bernafas, kemudian menikmatinya hingga datang ajal menjemput lalu kita mati seperti matinya makhluk yang tiada diperhitungkan setiap perbuatan yang dilakukan. Bukan !!.. Bukanlah demikian!!. Allah  <em>Jalla wa ‘Ala</em> berfirman yang artinya: “<em>Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (setelah ia diciptakan</em>)?” (QS. Al-Qiyamah: 36). Dan “<em>Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian hanya untuk kesia-siaan dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami (untuk diminta pertanggungjawaban)”.</em> (QS.Al-Mukminun: 115).</span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Sungguh, kita ada dan hidup di dunia adalah untuk sebuah tugas yang mulia, untuk tujuan yang agung, mengemban amanat ilahi yang suci. Tugas dan tujuan tersebut adalah beramal dan amal yang paling utama adalah <strong>TAUHID</strong>; yaitu mentauhidkan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> dengan beribadah dan menyembah hanya kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya. Allah Tabaroka Wa <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya: “<em>Dan tidakklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah (beribadah hanya) kepada-Ku”.</em> (QS. Adz-Dzaariyat: 56). </span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Syaikh Muhammad At-Tamimi berkata tentang tafsir penggalan akhir ayat tersebut dalam kitab “<em>Al-Ushul Ats-Tsalatsah</em>”, yang artinya: <em>“Makna ‘Menyembah (beribadah)’ adalah bertauhid.” Beliau juga berkata, ”Perintah Allah yang paling agung adalah </em><em><strong>TAUHID</strong></em><em>; yaitu mengesakan (menunggalkan) Allah Ta&#8217;ala dengan beribadah (menyembah hanya kepada-Nya), sementara larangan Allah yang paling besar adalah </em><em><strong>SYIRIK</strong></em><em>; yaitu menyembah (beribadah) kepada selain Allah Ta&#8217;ala bersama dengan penyembahannya kepada Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta&#8217;ala yang artinya: ”Dan sembahlah Allah, dan janganlah berbuat syirik kepada-Nya”. (QS. An-Nisaa: 36)</em>”. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Dan ulama menyebutkan makna ibadah sebagai berikut:<em><strong> “Ibadah adalah sebuah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir maupun yang batin”</strong></em>. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;"><strong>Makna Tauhid</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Mari sejenak kita mengenal dan membahas sedikit tentang makna tauhid.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Dari sisi <strong>bahasa Arab</strong> kata Tauhid merupakan akar kata dari kata Wahhada  – Yuwahhidu &#8211; Tauhidan, maknanya adalah menjadikan sesuatu tetap satu (tunggal).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Sedangkan menurut <strong>istilah syar’i</strong>, tauhid bermakna: <em><strong>mengesakan dan menunggalkan Allah Ta&#8217;ala di dalam perbuatan-perbuatan-Nya, mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, menetapkan bagi-Nya Nama-nama yang indah dan Sifat-sifat yang tinggi lagi mulia, serta mensucikan-Nya dari segala aib, cacat dan kekurangan</strong></em>. Inilah makna tauhid yang benar dan lurus menurut Ahlus-Sunnah Wal-Jama’ah.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Tauhid juga bermakna IKHLAS; yaitu mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Oleh karena itu, <strong>Kalimat Ikhlas</strong> yaitu <em><strong>“LAA ILAAHA ILLALLOH”</strong></em> dikenal juga dengan sebutan <strong>Kalimat Tauhid.</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;"><strong>Pentingnya Tauhid</strong></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;">Untuk mengetahui secara gamblang akan pentingnya sesuatu maka hal itu bisa dilakukan dengan mengetahui nilai manfaat sesuatu tersebut. Demikian pula dengan melihat kedudukan dan keutamaannya, maka sesuatu tersebut akan tampak bernilai dan berharga serta terasa begitu penting.</span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Allah <em>Ta&#8217;ala</em> telah menjelaskan tauhid di dalam kitab-Nya yang agung dan nabi-Nya pun sudah menjabarkannya dalam sunnahnya yang mulia, baik dengan sabdanya maupun dengan amal nyata. Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah <em>rahimahullah</em> menjelaskan: <em>“Sesungguhnya seluruh (ayat) Al-Quran adakalanya (mengandung) kabar berita tentang Allah; yaitu tentang nama dan sifat-Nya, dan tentang perbuatan serta perkataan-Nya. Inilah yang disebut dengan Tauhid Ilmi Khobari. Adakalanya pula (AlQuran mengandung) ajakan/dakwah untuk beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan (untuk) meninggalkan sesembahan selain-Nya. Ini dinamakan Tauhid Irodi Tholabi. Dan kadangkala (Al-Quran mencakup) perintah dan larangan (Allah) serta kewajiban mentaati-Nya (di dalam) perintah dan larangan-Nya tersebut. Ini adalah hak dan penyempurna tauhid. Kadangkala pula (Al-Quran berisikan) kabar berita tentang pemuliaan terhadap orang-orang yang bertauhid berupa ganjaran baik yang mereka terima di dunia dan kemuliaan yang mereka raih di akhirat. Ini merupakan balasan/pahala tauhid. (Dan Al-Quran juga menjelaskan) kabar berita tentang pelaku kesyirikan, hukuman apa saja yang akan ditimpakan kepada mereka di dunia dan siksa azab yang akan mereka rasakan di  akhirat. Inilah balasan orang-orang yang keluar dari hukum tauhid”</em>.(Fathul Majid).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;"><strong>Kedudukan Tauhid</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Berikut ini sekelumit penjelasan tentang kedudukan tauhid yang disertai dengan dalil-dalil dari Al-Quran da hadits.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">1. Sesungguhnya tauhid adalah tugas dan misi dakwah seluruh para rasul. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman yang artinya: <em>“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul di setiap umat (untuk mendakwahkan); “Sembahlah Allah dan jauhilah thoghut (sesembahan selain Allah)”</em>. (QS. An-Nahl: 36).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">2. Tauhid merupakan perintah pertama dari Allah yang terdapat di dalam Al-Quran dan perintah tersebut tertuju kepada seluruh manusia tanpa terkecuali. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 21 yang artinya: <em>“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa”</em>. (QS.Al-Baqoroh:21)</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">3. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memulai dakwahnya dengan tauhid. Ini dibuktikan di dalam sejarah kehidupan beliau. Beliau mendakwahi manusia untuk mentauhidkan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> selama 13 tahun di Mekah setelah beliau diutus sebagai rasul. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya: “<em>Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! (1). Bangkitlah dan berilah peringatan (kepada manusia)! (2). Dan agungkanlah Tuhanmu! (3)”.</em> (QS.Al-Muddatstsir: 1-3).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Syaikh Muhammad At-Tamimi <em>rahimahullah</em> menyebutkan tafsir ayat ke-2 dan ke-3: <em>“Makna ‘Bangkitlah dan berilah peringatan’ adalah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) memberi peringatan (kepada manusia untuk berlepas diri) dari kesyirikan. (Dan makna) ‘Agungkanlah Tuhanmu’  yaitu agungkanlah Dia dengan mentauhidkan-Nya”</em>.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">4. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga memerintahkan shahabat beliau untuk memulai dakwah dengan tauhid sebagaimana perintah beliau kepada Mu’adz bin Jabal tatkala beliau mengirimnya ke negeri Yaman sebagai juru dakwah. Beliau berkata, ”<em>Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum ahli kitab, maka jadikan awal mula yang kau dakwahkan adalah syahadat laa ilaha illallah (kalimat tauhid)”</em>. Dalam riwayat lain disebutkan: <em>“(adalah dakwah) agar mereka mentauhidkan Allah”</em>. (HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">5. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menciptakan jin dan manusia untuk tujuan tauhid. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya: <em>“Dan tidakklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah (beribadah hanya) kepada-Ku”.</em> (QS. Adz-Dzaariyat: 56)</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">6. Dan untuk tujuan tauhid pula Allah <em>Jalla Wa ‘Ala</em> mengutus para rasul dan menurunkan kitab.  Dia berfirman yang artinya: <em>“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasulpun sebelummu melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Aku. Maka sembahlah Aku”</em>. (QS.Al-Anbiya: 25). Dan firman-Nya: <em>“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan kebenaran, maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya”.</em> (QS. Az-Zumar:2)</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">7. Tauhid merupakan hak Allah yang agung atas hamba-Nya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya: <em>“Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka beribadah (menyembah hanya) kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”.</em> (HR.Bukhari dan Muslim) </span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">8. Dan tauhid adalah salah satu dari dua syarat yang mendasar agar amalnya diterima di sisi Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Dia berfirman yang artinya: <em>“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan rasul-rasul sebelummu (yaitu): ’Jika kamu berbuat syirik maka terhapuslah amalmu dan kamu termasuk orang-orang yang rugi”.</em> (QS.Az-Zumar: 65)</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;"><strong>Keutamaan Tauhid</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Di antara keutamaan tauhid yang diraih oleh orang-orang yang merealisasikannya dengan dilandasi dalil Al-Quran dan hadits adalah :</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">1. Dengan bertauhid dan berlepas diri dari kesyirikan, seseorang akan mendapatkan ampunan dari Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Dia berfirman yang artinya: <em>“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa kesyirikan kepada-Nya namun mengampuni dosa di bawah (derajat) kesyirikan bagi orang yang dikehendaki-Nya”. (QS. An-Nisa: 48)</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">2. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> memberikan janji kepada orang-orang yang bertauhid dan menjauhi kesyirikan berupa kekuasaan di muka bumi, keteguhan dalam beragama, dan keamanan bagi mereka. Allah <em>Jalla wa ‘Ala</em> berfirman yang artinya: <em>“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman diantara kalian dan yang beramal sholeh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai, dan Dia sungguh akan menggantikan bagi mereka rasa takut menjadi rasa aman, (dengan syarat) mereka hanya menyembah-Ku tanpa berbuat syirik kepada-Ku sedikitpun. Barangsiapa yang kafir setelah itu maka merekalah orang-orang yang fasiq”</em>.(QS.An-Nur: 55)</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">3. Orang yang bertauhid dan menghindari kesyirikan adalah orang yang mendapat bimbingan dan hidayah dari Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Dia berfirman yang artinya: “<em>Orang-orang yang beriman (bertauhid) dan tidak mengotori iman (tauhid)nya dengan kezaliman (yaitu kesyirikan), maka mereka memperoleh keamanan dan merekalah orang-orang yang diberi petunjuk (hidayah)”.</em> (QS. Al-An’am: 82)        <em> </em> </span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">4. Tauhid merupakan sebab masuknya sesorang ke dalam surga. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya: <em>“Barangsiapa yang mati dalam keadaan ia mengilmui (mengetahui dan mengamalkan tuntutan) ‘laa ilaha illallah’ (bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah)  pasti masuk surga (HR. Muslim)</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">5. Orang yang bertauhid akan meraih keberuntungan yang hakiki di dunia maupun di akhirat kelak. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya: <em>“Wahai manusia ucapkanlah ‘laa ilaha illallah’ (disertai dengan melaksanakan tuntutannya) niscaya kalian akan beruntung”.(HR. Ahmad dan Thabrani)</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">6. Tauhid seseorang mampu menghalanginya dari masuk ke dalam neraka atau kekal di dalamnya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya: <em>“Sesungguhnya Allah mengharamkan (menghalangi)  untuk masuk neraka bagi orang yang menyatakan ‘laa ilaha illalloh’ dengan ikhlas hanya mengharap wajah Allah”.(HR. Bukhari dan Muslim)</em> </span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Akhirnya, kita mengharap kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> agar Dia menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mentauhidkan-Nya dan memberikan kekuatan kepada kita untuk melepaskan diri, keluarga dan masyarakat dari kesyirikan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;"><em><strong>Wa shollallohu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa ashhaabihi ajma’iin. Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.</strong></em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;">Bahkan seluruh ayat Al-Quran berbicara seputar tauhid, hak-haknya dan balasan bagi para pelakunya. AlQuran juga berbicara tentang syirik, para pelakunya dan balasan bagi mereka</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;">5. Kalimat tauhid merupakan ucapan pertama yang membawa seorang kafir masuk ke dalam Islam. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya: <em>“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersyahadat laa ilaha illallah dan (bersyahadat) Muhammad Rasulullah”</em>. (HR. Bukhari dan Muslim).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Demikian pula kalimat tauhid adalah ucapan terakhir yang membawa pengucapnya masuk ke dalam surga. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya: <em>“Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah laa ilaha illallah, maka ia masuk surga”</em>. (HR. Abu Dawud)</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;"><strong>JENIS TAUHID</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;">Tauhid berdasarkan maknanya yang telah diterangkan diatas, terbagi menjadi tiga bagian. Yaitu :</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;">1. Tauhid Rububiyah</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;">2. Tauhid Uluhiyah</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;">3. Tauhid Asma dan Sifat. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID"><span style="font-family:&quot;">InsyaALLOH  penjabaran dan penjelasan ketiga jenis tauhid ini akan dimuat pada edisi- edisi bulan mendatang. Selamat menantikan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;" lang="id-ID">
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Para ulama menyatakan bahwa tauhid ketika disebutkan tanpa dikaitkan dengan kata yang lain maka tauhid tersebut adalah tauhid yang berkenaan dengan ibadah. Lebih ringkasnya disebut </span><span style="font-family:&quot;"><strong>Tauhid Ibadah</strong></span><span style="font-family:&quot;"> atau </span><span style="font-family:&quot;"><strong>Tauhid Uluhiyah</strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nashihah.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nashihah.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nashihah.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nashihah.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nashihah.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nashihah.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nashihah.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nashihah.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nashihah.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nashihah.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nashihah.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nashihah.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nashihah.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nashihah.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nashihah.wordpress.com&amp;blog=6686808&amp;post=126&amp;subd=nashihah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nashihah.wordpress.com/2009/10/22/tujuan-hidup-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085ef2092e4e85b9d6b6c48519042383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nashihah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sudah Ikhlaskah Kita?</title>
		<link>http://nashihah.wordpress.com/2009/10/22/sudah-ikhlaskah-kita/</link>
		<comments>http://nashihah.wordpress.com/2009/10/22/sudah-ikhlaskah-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 16:05:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nashihah</dc:creator>
				<category><![CDATA[01. Januari]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nashihah.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Bukan sesuatu yang asing lagi di telinga kita apabila kita mendengar ada orang yang berkata, “Aku ikhlas kok!” atau “Kerjanya yang ikhlas ya!”, tapi apakah kita pernah bertanya kepada diri kita apa sebenarnya ikhlas itu? Apakah yang kita pahami tentang ikhlas itu sama dengan yang dimaksud oleh Allah dan RasulNya? Oleh karena itu, pada edisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nashihah.wordpress.com&amp;blog=6686808&amp;post=123&amp;subd=nashihah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Bukan sesuatu yang asing lagi di telinga kita apabila kita mendengar ada orang yang berkata, “Aku ikhlas kok!” atau “Kerjanya yang ikhlas ya!”, tapi apakah kita pernah bertanya kepada diri kita apa sebenarnya ikhlas itu? Apakah yang kita pahami tentang ikhlas itu sama dengan yang dimaksud oleh Allah dan RasulNya? <span id="more-123"></span>Oleh karena itu, pada edisi perdana ini kita akan mencoba mempelajari makna ikhlas yang benar dan beberapa hal yang berhubungan dengannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Makna ikhlas<br />
Ikhlas adalah memurnikan ibadah atau amal shalih hanya untuk Allah dengan mengharap pahala dariNya semata. Jadi dalam beramal kita hanya mengharap balasan dari Allah, tidak dari manusia atau makhluk-makhluk yang lain. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan arti ikhlas yaitu mengesakan Allah  di dalam tujuan atau keinginan ketika melakukan ketaatan, beliau juga menjelaskan bahwa ikhlas adalah memurnikan amalan dari segala yang mengotorinya.  Inilah bentuk pengamalan dari firman Allah dalam surat Al-Fatihah ayat 5 yang artinya: ”Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan”.</p>
<p style="text-align:justify;">Urgensi Ikhlas<br />
Ikhlas dalam beramal memiliki peranan yang sangat penting, karena ia adalah syarat diterimanya amal tersebut, sebagaimana firman Allah yang artinya : “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaatiNya semata-mata karena (menjalankan ) agama, dan juga agar menegakkan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus dan benar” (QS. Al-Bayyinah :5). Oleh sebab itu, apabila seseorang tidak ikhlas dan dia beramal hanya untuk tujuan-tujuan dunia, maka ini adalah pertanda kebinasaan karena Allah tidak akan menerima amal tersebut dan hanya menjadikannya seperti debu yang berterbangan sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu seperti debu yang berterbangan” (QS Al-Furqan: 23). Di dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesunggunhnya Allah telah berfirman: Aku sangat tidak butuh kepada sekutu, barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang dia menyekutukanKu di dalamnya maka akan Aku tinggalkan dia dan sekutunya” (HR. Muslim).</p>
<p style="text-align:justify;">Petunjuk Alqur&#8217;an dan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ikhlas<br />
Kalau kita duduk sejenak untuk mentadaburi ayat-ayat Allah dan Hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya kita akan mendapatkan banyak sekali ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk ikhlas di dalam beramal, diantaranya adalah firman Allah pada surat Adz-Dzariyat: 56 yang artinya: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu saja”. Dalam ayat ini Allah menerangkan  tentang tujuan diciptakannya manusia dan jin, yaitu untuk beribadah hanya kepada Allah semata, ini berarti semua amal yang kita lakukan haruslah murni hanya untuk Allah bukan untuk selainNya. Begitu juga firman Allah yang artinya: “Katakanlah, (wahai Muhammad ) hanya Allah yang aku sembah dengan penuh ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agamaku” (QS. Az-Zumar: 14). Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada nabiNya untuk menyatakan keikhlasan di dalam ibadah, maka perintah kepada rasul merupakan perintah kepada umatnya pula.<br />
Adapun hadits-hadits Rasulullah-shalallahu &#8216;alaihi wa sallam- yang berkaitan dengan ikhlas sangatlah banyak, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Al-Khattab, beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung dari pada niatnya dan balasan yang akan diperoleh seseorang tergantung dari apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang berhijrah untuk Allah dan rasulNya maka hijrahnya itu akan menuju Allah dan rasulNya dan barang siapa yang berhijrah untuk dunia yang dia cari atau wanita yang ingin dia nikahi maka hijrahnya itu akan tertuju untuk apa yang ia inginkan”. (HR. Bukhari dan Muslim). Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan balasan orang-orang yang berbuat amal karena Allah, yaitu Allah akan menerima amalnya. Adapun orang-orang yang beramal untuk selainNya maka terkadang Allah akan memberi sesuai dengan yang ia inginkan namun ia tidak akan mendapatkan pahala dari Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal-hal yang dapat merusak ikhlas.<br />
Setan adalah musuh terbesar manusia. Setan tidak akan pernah membiarkan manusia melakukan suatu amal kebaikan melainkan dia akan berusaha untuk merusak amalan tersebut. Begitulah yang terjadi jika seseorang berusaha untuk megikhlaskan ibadahnya, maka disitulah setan akan berusaha untuk membuat manusia tidak ikhlas. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim haruslah mengetahui tipuan-tipuan setan sehingga kita tidak terjebak di dalamnya karena barangsiapa yang tidak mengetahui tipuan-tipuan tersebut maka dia akan terjatuh di dalamnya.<br />
Diantara hal-hal yang dapat merusak keikhlasan seseorang adalah :<br />
1.Riya&#8217;<br />
Yang dimaksud dengan riya&#8217; adalah seseorang menampakan amalnya dengan tujuan orang lain melihatnya dan memujinya. Perbuatan seperti ini adalah termasuk pembatal keikhlasan. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan jika umatnya terjatuh dalam perbuatan tersebut, sebagaimana sabda beliau yang artinya : “Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, maka para sahabat bertanya : ‘Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?’. Beliaupun bersabda: ‘Syirik kecil itu  adalah riya&#8217;. Pada hari kiamat ketika manusia dibalas dengan amal perbuatannya Allah akan berkata kepada orang-orang yang berbuat riya&#8217;, ‘Pergilah kalian kepada apa-apa yang membuat kalian berbuat riya&#8217;, maka lihatlah apakah kalian mandapat balasan dari mereka’” (HR. Ahmad ).<br />
Di dalam hadits ini kita mendapati bagaimana besarnya kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya sehingga beliau menerangkan apa-apa yang membahayakan umatnya di dunia dan di akhirat. Pada hadits ini pula  kita dapat mengetahui bahaya riya&#8217;, yaitu pelakunya tidak akan mendapatkan balasan dari Allah, bahkan Allah menyuruh mereka untuk pergi kepada apa-apa yang menyebabkan mereka berbuat riya&#8217;. Apabila mereka beramal karena ingin dilihat oleh teman-temannya dan ingin disebut sebagai orang yang alim, maka Allah akan menyuruhnya untuk pergi kepada teman-temannya tersebut untuk meminta balasan dari amalnya, maka tidaklah mungkin teman-temannya itu akan dapat memberi balasan kepadanya. Bahkan teman-temannya itupun membutuhkan pahala dari Allah.<br />
Oleh sebab itu, hendaklah kita berhati-hati terhadap perbutan riya&#8217; dan selalu meminta pertolongan Allah agar tidak terjatuh kepada perbuatan tersebut.<br />
2.Sum&#8217;ah<br />
Adapun yang dimaksud dengan sum&#8217;ah adalah seseorang beramal dengan tujuan agar orang lain mendengar amalnya tersebut lalu memujinya. Maka bahaya sum&#8217;ah sama dengan bahaya riya&#8217; dan pelakunya terancam tidak akan mendapatkan balasan dari Allah, bahkan Allah akan membuka semua keburukannya di hadapan manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya : “Barangsiapa yang memperdengarkan amalannya maka Allah akan memperdengarkan kejelekan niatnya dan barang siapa yang beramal karena riya&#8217; maka Allah akan membuka niatnya di hadapan manusia” (HR. Bukhari  dan Muslim)<br />
3.Ujub<br />
Yang dimaksud dengan ujub adalah seseorang berbangga diri dengan amal-amalnya. Para ulama menerangkan bahwa ujub merupakan sebab terhapusnya pahala seseorang, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa ujub sebagai hal-hal yang membinasakan. Beliau bersabda yang artinya:  “Hal-hal yang membinasakan ada tiga yaitu: berbangganya seseorang dengan dirinya, kikir yang dituruti, dan hawa nafsu yang diikuti” (HR. Al-Bazzar ). Maka hendaklah kita berhati-hati dari ujub dan menyadari bahwa segala amal shalih yang kita lakukan adalah rahmat dari Allah kepada kita, dan bukan semata-mata karena usaha kita. Kita memohon kepada Allah agar menjauhkan diri kita dari penyakit-penyakit yang merusak keikhlasan dan agar Allah menerima amal shalih yang kita lakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Untaian mutiara hikmah tentang ikhlas<br />
Imam Sufyan Ats Tsauri-Rahimahullah- berkata &#8220;Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan  adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah&#8221;. Sebagian ulama berkata, ”Ikhlas sesaat akan membuahkan keselamatan yang abadi”, Ibnul Qoyyim-Rahimahullah- berkata, &#8220;Tidak akan berkumpul keikhlasan di dalam hati seseorang dengan kecintaan untuk dipuji dan disanjung serta keinginan untuk mendapatkan apa-apa yang ada di sisi manusia, kecuali sebagaimana berkumpulnya api dan air atau kadal gurun dan ikan.&#8221; Imam Ibnul Mubarak berkata, “Betapa banyak amal yang sepele menjadi besar dikarenakan niat -yang benar-, dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niat -yang salah-.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kita mengetahui bahwa ikhlas bukanlah hanya sekedar ucapan &#8216;Saya ikhlas&#8217; dan bukan hanya sekedar tulus dalam memberi dan tanpa pamrih, maka marilah kita bertanya kepada diri kita sekarang “Sudahkah kita ikhlas dalam beramal?”, “Sudahkan kita terhindar dari hal-hal yang mengotori amal kita?” Bila jawabannya adalah &#8216;sudah&#8217;, maka wajib bagi kita untuk bersyukur dan terus berusaha untuk istiqamah, adapun apabila jawabannya &#8216;belum&#8217; maka hendaklah kita berusaha memperbaiki hati  dan memohon taufik serta hidayah dari Allah supaya menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas.	Wa shallallahu &#8216;ala nabiyyina Muhammad wa &#8216;ala aalihi wa ashabihi ajma&#8217;iin. (Adi Aprianto)</p>
<p style="text-align:justify;">Alhamdulillah, akhirnya edisi perdana buletin An-Nashihah dapat hadir di hadapan para pembaca yang budiman. Sebagai buletin yang &#8220;baru lahir&#8221;, tentu masih banyak kekurangan, karena itu saran dan kritik konstruktif dari pembaca sekalian sangat kami harapkan agar pada edisi-edisi mendatang buletin ini bisa lebih baik.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nashihah.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nashihah.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nashihah.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nashihah.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nashihah.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nashihah.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nashihah.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nashihah.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nashihah.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nashihah.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nashihah.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nashihah.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nashihah.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nashihah.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nashihah.wordpress.com&amp;blog=6686808&amp;post=123&amp;subd=nashihah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nashihah.wordpress.com/2009/10/22/sudah-ikhlaskah-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085ef2092e4e85b9d6b6c48519042383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nashihah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Ilmu Fiqih</title>
		<link>http://nashihah.wordpress.com/2009/10/22/mengenal-ilmu-fiqih/</link>
		<comments>http://nashihah.wordpress.com/2009/10/22/mengenal-ilmu-fiqih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 15:48:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nashihah</dc:creator>
				<category><![CDATA[01. Januari]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nashihah.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam semoga tercurah untuk junjungan dan teladan kita, Nabi Muhammad, keluarga dan para pengikut sunnahnya hingga hari Kiamat. Amma ba&#8217;du: Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah merahmatimu, bahwa Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah memuji ilmu dan pemiliknya serta mendorong hamba-hamba-Nya agar mencari dan membekali diri dengannya. Allah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nashihah.wordpress.com&amp;blog=6686808&amp;post=117&amp;subd=nashihah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam semoga tercurah untuk junjungan dan teladan kita, Nabi Muhammad, keluarga dan para pengikut sunnahnya hingga hari Kiamat. Amma ba&#8217;du:<span id="more-117"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah merahmatimu, bahwa Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah memuji ilmu dan pemiliknya serta mendorong hamba-hamba-Nya agar mencari dan membekali diri dengannya. Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah  Mahamengetahui atas apa yang kamu kerjakan.”(Al-Mujadilah:11) Allah juga berfirman di dalam ayat yang lain: &#8220;Katakanlah,  apakah sama orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu. Sesungguhnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran&#8221;. (Az – Zumar : 9) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, Allah akan pahamkan dia tentang agamanya”.(HR Bukhari dan Muslim) Pujian dan sanjungan  yang terkandung dalam ayat &#8211; ayat dan hadits di atas tertuju kepada ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membuahkan amal.    Keutamaan ilmu fiqih Islam Ketahuilah wahai saudaraku, ilmu fiqih yang rinci merupakan salah satu kekhususan dari umat ini. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala mengatur setiap gerak-gerik dan perilaku hamba-Nya dengan sedetail detailnya,  mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, dari adab masuk kamar mandi sampai urusan kenegaraan. Semua aturan ini bertujuan agar setiap gerak-gerik hamba selalu dalam bimbingan-Nya dan bimbingan sunnah  Rosul-Nya dan agar selalu mendapat keridhoan-Nya. Maka wahai saudaraku, pelajarilah ilmu ini, pahamilah agama ini agar setiap langkah kita, bahkan setiap hembusan nafas kita selalu mendapat pahala dan ridha dari Allah Ta&#8217;ala.  Ilmu Fiqih dalam catatan sejarah Ilmu fiqih hingga menjadi seperti sekarang ini melalui perjalanan yan panjang. Dimulai dari masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada masa tersebut, ilmu fiqih belum terkodifikasi (dibukukan) karena pensyariatan sedang berjalan. Masa itu adalah masa yang sangat mulia, dimasa itu umat islam dibimbing langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Alangkah indahnya jika kita hidup dengan tuntunan beliau sebagaimana yang dirasakan oleh para sahabat. Tapi bagaimana mungkin, bukankah beliau telah wafat? Saudaraku, kita bisa terbimbing melalui sunah-sunah dan ajaran-ajaran beliau.   Kemudian, berlanjut ke masa para khulafa’ur rasyidin. Masa ini juga merupakan masa yang terbaik, pada masa ini, hidup generasi terbaik dari umat ini yaitu para sahabat Nabi. Mengapa mereka mendapat gelar mulia tersebut? Pertama, karena mereka adalah umat yang dipilih langsung oleh Allah untuk mendampingi Nabi-Nya, seperti yang dikatakan sebagian ulama terdahulu bahwa “Sebutir tanah bersama Nabi lebih dari segalanya.”  Cuma itu? Tidak, karena mereka adalah umat yang bersungguh sungguh mengikuti sunnah Nabinya dan mudah kembali kepada kebenaran jika ternyata mereka mendapati bahwa pendapat mereka  bertentangan dengan Al-Qur&#8217;an dan sunah Nabi. Banyak kisah tentang kembalinya para sahabat nabi dari suatu pendapat kepada Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah jika mendapati dalil dari keduanya.  Sebagai contoh, Abu Bakar Ash-Shiddiq mengoreksi pendapatnya tentang masalah pembagian warisan untuk nenek setelah mengetahui ada hadits tentang masalah ini yang bertentangan dengan pendapatnya. Begitu pula para sahabat yang lain. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak fanatik dengan pendapat mereka dan mengoreksi pendapat mereka jika mengetahui pendapat mereka menyelisihi dalil.  Ahli fiqih dari kalangan sahabat nabi antara lain Umar bin Khattab, Abdulah bin Mash&#8217;ud, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar dan yang lainnya -semoga Allah meridhai mereka semua-. Kemudian berlanjut kemasa Tabi&#8217;in dan Tabi&#8217;ut Tabi&#8217;in. Ilmu fiqih dimasa itu juga belum dibukukan dan ditata. Muncul pada masa ini para ahli Fiqih dari kalangan Tabi&#8217;in seperti Said bin Musayyib, Mujahid, Atha&#8217; bin Abi Rabbah, Hasan Al Bashri, Nafi&#8217; maula Ibnu Umar, Thowus bin Kaisan dan yang lainnya -semoga Allah merahmati mereka- Akhirnya, sampailah fiqih pada masa para imam mujtahid. Mereka berusaha memecahkan masalah fiqih yang muncul pada masa tesebut. Masa ini disebut sebagai masa keemasan ilmu. Salah satu bentuk karunia Allah kepada hamba-Nya, Allah menjadikan dari umat ini -pada masa tersebut- hamba-hamba yang shalih yang menjaga ilmu ini dan mengajari umat bagaimana cara beribadah kepada Allah. Di antara mereka yang terkenal dengan keilmuannya adalah yang sering disebut dengan imam yang empat. Mereka itu adalah Imam Abu Hahifah, Imam Malik, Imam Asy-syafi&#8217;i, dan Imam Ahmad -semoga Allah merahmati mereka-.  Etika kita kepada mereka  	Ketahuilah wahai saudaraku, etika kita kepada mereka adalah dengan mencintai, memuliakan, dan memuji mereka atas ilmu dan ketaqwaaan mereka, serta mengikuti semangat mereka dalam beramal dengan Al-Qur&#8217;an dan hadits. Kita juga mengikuti pendapat-pendapat mereka yang sesuai dengan Al-Qur&#8217;an dan hadits dan meninggalkan pendapat-pendapat mereka yang kurang sesuai dengan keduanya. 	Tidak dapat dipungkiri bahwa di antara mereka terjadi perbedaan pendapat dalam beberapa masalah fiqih. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya, salah satu faktor yang terpenting adalah tidak sampainya hadits Rasulullah kepada sebagian mereka. Boleh jadi suatu hadits sampai kepada sebagian mereka dan sebagian yang lain belum mendapatkannya  (karena di masa itu hadits-hadits nabi masih bertebaran di negeri-negeri Islam dan belum dibukukan seperti yang ada dimasa ini) atau sebuah hadits sampai kepada masing-masing mereka tapi dengan jalur periwayatan yang berbeda, atau dengan jalur periwayatan yang sama tapi bereka berbeda dalam menilai keshahihan hadits tersebut, maka terjadilah silang pendapat di antara mereka. Lalu bagaimana seseorang muslim menyikapi hal ini? Alhamdulillah, jawabannya ada pada mutiara-mutiara hikmah berharga yang terlukis dari ucapan mereka, di antaranya : Imam Abu Hanifah berkata : &#8220;Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan  Al-Qur&#8217;an dan hadits Rasulullah, tinggalkanlah pendapatku itu&#8221;. Imam Malik berkata : &#8220;Saya hanyalah seorang manusia biasa, terkadang salah dan terkadang benar. Oleh karena itu, pilahlah pendapatku. Apabila sesuai dengan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah (Hadits) maka  ambilah, dan apabila tidak sesuai dengan  Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah, maka  tinggalkanlah&#8221;. Imam Syafi&#8217;i berkata : &#8220;Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berseberangan dengan hadits Rasulullah, peganglah hadits Rasulullah dan tinggalkanlah pendapatku itu&#8221;. Beliau juga berkata : &#8220;Bila suatu masalah ada haditsnya yang sah dari Rasulullah menurut kalangan ahli hadits tapi pendapatku menyalahinya maka aku mencabut pendapatku itu, baik sekarangmaupun setelah aku mati&#8221;. Imam Ahmad berkata : &#8220;Janganlah bertaqlid kepadaku dan jangan pula kepada Syafi&#8217;i begitu juga kepada Al Auza&#8217;i dan Ats-Tsaury, tapi ambillah dari sumber mereka mengambil&#8221;. 	Dapat diambil pelajaran dari beberapa mutiara hikmah di atas, bahwa mereka -semoga Allah merahmati mereka- berwasiat kepada para pecintanya untuk mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah (hadits) meskipun berkonsekwensi menyelisihi pendapat mereka. Bahkan telah masyhur, bahwa mereka mengatakan : “Apabila sebuah hadits terbukti shahih, maka itulah pendapatku.”  Antara Taqlid dan Ittiba&#8217; 	Ketahuilah wahai saudaraku, jika telah jelas suatu hukum yang disertai dengan dalil dari kitab  Allah,  sunnah nabi-Nya atau ijma&#8217; (kesepakatan ulama) maka tidak boleh taqlid buta kepada pendapat yang menyelisihinya. 	Makna taqlid adalah mengikuti pendapat seseorang yang perkataannya bukan merupakan hujjah (argumen yang diterima) atau dalam definisi lain mengikuti pedapat seseorang tanpa mengetahui dalil pendapat tersebut. Sedangkan ittiba&#8217; adalah mengikuti apa yang datang dari Allah dan nabi-Nya  atau yang datang dari sahabat nabi. Inilah jalan yang benar dalam beragama dan diwasiatkan para imam -semoga Allah merahmati mereka- di dalam kitab-kitab mereka.  Dalil tentang wajibnya ittiba&#8217; Allah berfirman “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari rabbmu dan jangan ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran&#8221; (Al-A&#8217;raf :3) Allah juga berfirman &#8220;Katakanlah, sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan Rabbku kepadaku (Al-Qur&#8217;an). Ini adalah bukti nyata dari Rabbmu, petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman&#8221;.(Al-A&#8217;raf : 203) Wahai saudaraku, diantara alamat mencintai seseorang adalah melaksanakan wasiatnya. Maka ketahuilah bahwa melaksanakan wasiat para imam tersebut, yaitu wasiat untuk mengikuti Al-qur&#8217;an dan As-Sunnah (Hadits) serta menjauhi taqlid buta merupakan bukti cinta kepada mereka. Dan tidaklah dianggap mencintai jika dia menyia-nyiakan wasiat mereka dengan taqlid buta dan fanatik yang berlebihan, walaupun dia mengklaim bahwa dia mencintainya. 	Dan lihatlah wahai saudaraku teladan dalam masalah ini, teladan dari murid-murid mereka. lihatlah imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad Asy-Syaibani yang keduanya adalah murid utama Imam Abu Hanifah. Mereka menyelisihi hampir sepertiga pendapat guru mereka. Mengapa? Karena mereka berusaha mengikuti dalil dari As-Sunnah (hadits) yang belum diketahui guru mereka. Dan lebih menajubkan lagi wahai saudaraku, teladan dari “rantai emas guru dan murid teladan”, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Imam Malik adalah guru Imam Syafi’i dan Imam Syafi’i adalah guru Imam Ahmad. Tahukah anda mengapa nama mereka harum? Karena mereka berusaha mengikuti Al-Qur’an dan As-As-Sunnah (hadits) dan menjauhi taqlid dan fanatik buta kepada gurunya. Mereka dipuji karena itu. Setelah kita mengulas secara seksama pembahasan di atas maka jelaslah wahai saudaraku bahwa cara yang benar dalam beragama, yang mana itu diridhai oleh Allah dan diwasiatkan oleh para imam yang dengannya kita mencintai mereka adalah berittiba’ (mengikuti yang benar dengan mengetahui dalilnya) yang terdapat didalam Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah (Hadits) atau mengikuti yang lebih dekat dengan keduanya dan menjauhi taqlid dan fanatik buta. Wallahu a’lam bish – shawab. (Abdurrahman Muttaqin)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nashihah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nashihah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nashihah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nashihah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nashihah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nashihah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nashihah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nashihah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nashihah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nashihah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nashihah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nashihah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nashihah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nashihah.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nashihah.wordpress.com&amp;blog=6686808&amp;post=117&amp;subd=nashihah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nashihah.wordpress.com/2009/10/22/mengenal-ilmu-fiqih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085ef2092e4e85b9d6b6c48519042383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nashihah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perang Badar, Awal Kemenangan</title>
		<link>http://nashihah.wordpress.com/2009/09/21/perang-badar-awal-kemenangan/</link>
		<comments>http://nashihah.wordpress.com/2009/09/21/perang-badar-awal-kemenangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 08:57:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nashihah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nashihah.wordpress.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. ( Ali Imran : 123) SEBAB PEPERANGAN Ketika Nabi Muhammad mendengar bahwa kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan pulang dari negeri Syam, beliau bermaksud menghadangnya (karena kafilah dagang Quraisy [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nashihah.wordpress.com&amp;blog=6686808&amp;post=98&amp;subd=nashihah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.<br />
( Ali Imran : 123)<span id="more-98"></span></p>
<p style="text-align:justify;">SEBAB PEPERANGAN<br />
Ketika Nabi Muhammad mendengar bahwa kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan pulang dari negeri Syam, beliau bermaksud menghadangnya (karena kafilah dagang Quraisy yang pulang dari Syam menuju Mekkah harus melewati Madinah, karena letak kota Madinah diantara Syam dan Mekkah). Maka Rasulullah menyuruh para sahabatnya untuk bersiap-siap menghadang kafilah itu. Beliau berkata :”Sesungguhnya aku telah dikabari (oleh mata-mata beliau), bahwa kafilah dagang Abu Sufyan akan tiba melewati Madinah. Apakah kalian mau keluar untuk menghadang kafilah ini?” para sahabat yang penuh kepatuhan dan kecintaan berkata :”Ya!”. Maka Rasulullah pun keluar bersama para sahabat. Dan dalam hal ini beliau tidak memaksa setiap sahabatnya untuk ikut serta, Rasul hanya mensyaratkan bahwa siapa saja yang mempunyai tunggangan dan siap digunakan, agar bisa bergabung. Maka berkumpulah tak kurang dari 313 sahabat dari Muhajirin dan Anshar dan bersama mereka 2 ekor kuda saja dan  70 ekor unta yang dinaiki bergantian satu unta untuk tiga orang, karena mereka hanya bermaksud menghadang saja bukan untuk berperang.<br />
Abu Sufyan dalam sikap waspada karena penghadangan kafilah sering terjadi. Maka dia menanyai setiap orang yang berpapasan dengannya tentang apa yang dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Ketika dia diberi tahu bahwa Nabi Muhammad dan sahabatnya bergerak untuk menghadangnya, dia mengirim utusan menuju Mekkah untuk mengabarkan hal yang genting ini dan meminta bantuan untuk menghadapi Nabi Muhammad.</p>
<p style="text-align:justify;">PASUKAN KESYIRIKAN DATANG<br />
Maka keluarlah kaum Musyrikin Quraisy dengan congkaknya. Mereka berkekuatan 1000 orang personel dengan persenjataan lengkap berbeda dengan pasukan Muslimin yang hanya berjumlah 313 orang saja dengan persiapan apa adanya. Tapi setelah mereka keluar, muncul rasa khawatir dalam diri mereka bahwa Bani Bakr yang merupakan musuh mereka akan menyerang Mekkah karena pertahanan mereka di Mekkah melemah dikarenakan sebagian besar mereka keluar untuk berperang. Tapi memang sudang menjadi Sunnatullah bahwa musuh-musuh Islam akan tolong menolong dalam permusuhan dengan umat Islam, saat itu pula Iblis terlaknat menjelma sebagai sosok Suraqah bin Malik Al-Madlaji, pembesar Bani Kinanah dan menemui mereka dan berkata :”Sesungguhnya aku adalah tetangga kalian, kami tidak akan keluar dari belakang kalian dengan sesuatu yang kalian benci (yaitu tidak ada penyerangan terhadap kalian)”. Maka menjadi tenang dan mantaplah mereka untuk terus maju menuju pasukan Nabi Muhammad.<br />
Setelah itu tibalah utusan dari Abu Sufyan mengabarkan bahwa Abu Sufyan beserta kafilahnya selamat karena mereka menghindari hadangan dengan melewati pesisir pantai dan meminta para pasukan untuk kembali ke Mekkah. Tapi berkata Abu Jahal dengan congkaknya:”Demi Allah, kita tidak akan kembali hingga kita telah sampai di Badar, kita akan bermalam disana selama tiga hari(untuk berpesta), kita disana akan menyembelih unta dan kita akan makan-makan, juga meminum khamr, dan mendengar nyanyian para budak-budak wanita, dan bangsa Arab akan mendengar apa yang kami perbuat dan apa yang kami kumpulkan(dari pasukan yang besar), dan mereka(bangsa Arab) akan menyegani kita selamanya”.</p>
<p style="text-align:justify;">MASA-MASA YANG SULIT<br />
Dan telah sampai kabar kepada Rasulullah bahwa kaum Musyrikin Quraisy dengan jumlah yang besar dan bersenjatakan lengkap sedang menuju Badar untuk menghadapi beliau dan para sahabatnya. Maka beliau pun meminta pendapat para sahabatnya. Dan diantara mereka ada yang takut berhadapan dengan pasukan Musyrikin Quraisy dikarenakan Pasukan Muslimin belum siap untuk itu, karena memang mereka keluar hanya bermaksud menghadang kafilah saja bukan untuk sebuah pertempuran besar. Maka berkatalah para pembesar kaum Muhajirin seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Miqdad bin Amr mendukung usulan untuk menghadapi pasukan Musyrikin Quraisy. Berkata Miqdad bin Amr;”Demi Allah, kami tidak akan berkata sebagaimana Bani Israel berkata kepada Nabi Musa “Maka pergilah kamu hai Musa dan tuhanmu untuk berperang, sesungguhnya kami duduk-duduk saja disini” akan tetapi kami katakan “Pergilah wahai Rasul dan tuhanmu untuk berperang, sesungguhnya kami akan bersama kalian untuk berperang”. Kemudian Nabi meminta pendapat dari kaum Anshar yang mana mereka adalah personel yang paling banyak didalam pasukan Muslimin. Maka berkatalah Sa’ad bin Muadz, pemimpin kaum Anshar:”Seolah-olah engkau sedang menawari kami (untuk berperang menghadapi Musyrikin Quraisy) ya Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau meminta kami untuk menunjukkan sebuah lautan, kemudian engkau menyebranginya, maka kami pun benar-benar akan menyebranginya bersamamu tanpa ada seorang pun dari kami yang tertinggal, dan kami tidak akan benci untuk bertemu musuh kami besok. Kami benar-benar bersabar didalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Mudah-mudahan Allah akan  memperlihatkan kepadamu sesuatu dari kami yang bisa menenangkan matamu. Maka majulah bersama kami atas berkah Allah”. Maka menjadi mantap dan tenanglahlah hati Rasulullah dikarenakan kerelaan kaum Muslimin untuk berjuang bersama beliau.</p>
<p style="text-align:justify;">YA ALLAH, BINASAKANLAH MEREKA PAGI INI<br />
Sampailah pasukan Muslimin di Badar dan memilih tempat yang dekat dengan sumber air atas usulan sahabat Al-Khabab bin Al-Mundzir. Sampailah juga pasukan kemusyrikan dari Quraisy di Badar. Kaum Muslimin kemudian membuat kemah untuk menjadi markas komando bagi Rasulullah.<br />
Pada waktu pagi hari bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 17 Ramadhan yang penuh berkah tahun kedua Hijriyyah, berhadap-hadapanlah kedua pasukan. Maka berdoalah Rasulullah ketika itu,”Ya Allah, orang-orang Quraisy itu benar-benar telah siap untuk berhadapan diiringi kuda-kuda dan sikap congkak mereka dalam keadaan menentang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, aku mohon pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, binasakanlah mereka pagi ini.<br />
Sebelum pertempuran dimulai, keluarlah tiga orang dari Musyrikin  Quraisy menantang kaum Muslimin untuk duel satu lawan satu, mereka adalah Utbah bin Rabi’ah dan saudaranya Syaibah, serta Al-Walid bin Utbah. Maka keluarlah tiga orang Anshar untuk menghadapi mereka. Tapi ketiga Musyrikin itu menolak dan meminta dari kalangan mereka sajalah yang berhak menghadapi mereka yaitu dari kaum Muhajirin Quraisy. Maka keluarlah tiga pahlawan muhajirin yaitu Ali bin Abi Thalib, Hamzah singa Allah, serta Ubaidah bin Al-Harist. Maka dengan mudah Ali membunuh Syaibah, Hamzah membunuh Utbah, dan Ubaidah dan A-Walid saling melukai sampai kemudian Ali dan Hamzah membunuh Al-Walid.<br />
Setelah melihat ketiga jagoan mereka takluk ditangan pahlawan Islam, menjadi kalaplah pasukan Musyrikin. Mereka mulai maju menyerang pasukan Muslimin. Di lain tempat, Rasulullah memberi instruksi kepada pasukannya dan membakar semangat mereka untuk bertempur. Setelah itu beliau bersabda mengomando para sahabatnya untuk maju:” Bangkitlah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi !!” . Ketika mendengar hal yang demikian, Umair bin Al- Humam dari Anshar bertanya memastikan:”Ya Rasulullah, apakah surga yang luasnya seluas langit dan bumi?”. Rasul bersabda:”Ya”. Maka Umair berkata: ”Bakhin, bakhin (perkataan yang diucapkan orang Arab ketika merasa takjub terhadap sesuatu)”, maka Rasul bertanya:”Apa yang mendorongmu berkata demikian?”, jawab Umair:”Tidak apa-apa, demi Allah ya Rasulullah, kecuali aku menginginkan menjadi penghuninya”. Rasul bersabda:”Kamu termasuk penghuninya”, maka menjadi terpaculah Umair untuk bertempur dan pada pertempuran ini Umair  terbunuh dan mendapatkan apa yang dia inginkan.</p>
<p style="text-align:justify;">DAN API PERTEMPURAN PUN BERKOBAR<br />
Maka berkecamuklah pertempuran dengan dahsyatnya antara kaum Muslimin yang berjumlah 313 orang saja berbekal keimanan dan ketakwaan melawan kaum Musyrikin walaupun peralatan dan jumlah mereka kalah jauh dibanding kaum Musyrikin yang berkekuatan tiga kali lipat. Tapi kaum Musyrikin kewalahan melawan kaum Muslimin walau jumlah mereka lebih banyak. Dalam perang ini Rasulullah tidak hanya diam melihat jalannya pertempuran, tapi beliau ikut terjun langsung ke medan pertempuran sebagaimana yang dikabarkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib:”Sesungguhnya kita bertempur dalam perang Badar, dan kita berlindung dibalik Rasulullah yang mana beliau lebih dekat jaraknya dengan pasukan  musuh. Dan ketika itu beliau adalah orang yang paling dahsyat bertempurnya”</p>
<p style="text-align:justify;">TENTARA DARI LANGIT<br />
Dalam pertempuran ini Allah menurunkan pertolongan kepada pasukan Muslimin sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa ketika salah seorang pasukan Muslimin mengejar salah seorang pasukan Musyrikin, dia mendengar dari arah atas suara lecutan cambuk dan suara penunggang kuda yang berkata;”Majulah Khaizum (nama kuda malaikat)” maka tiba-tiba jatuhlah orang musyrik tersebut dan terlihat hidungnya terpotong dan wajahnya hancur seperti terkena lecutan cambuk, maka orang tersebut mengabarkannya kepada Rasulullah, ,maka bersabda Rasulullah:”Engkau benar, itu adalah bantuan dari langit ketiga”. Selain itu malaikat-malaikat memenggal kepala-kepala kaum Musyrikin. Maka terlemparlah kepala-kepala mereka tanpa tahu siapa yang memenggalnya. Itulah pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang berjuang membela agama-Nya.<br />
Maka menjadi terkocar-kacirlah barisan kaum Musyrikin dan semakin tampaklah kekalahan mereka. Dan pada pertempuran ini terbunuhlah para musuh-musuh Allah seperti Abu Jahal yang disebut Nabi “Firaunnya umat ini”, Umayyah bin Khalaf, serta Al-Ash bin Hisyam bin Mughirah. Dan  terbunuh dalam pertempuran ini 70 orang dari barisan Musyrikin dan 70 orang tertawan. Sedangkan dari pihak Muslimin gugur 14 orang sahabat, 6 orang dari Muhajirin dan 8 orang dari Anshar.</p>
<p style="text-align:justify;">PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL DARI PERISTIWA INI<br />
1. Bahwa penghadangan Rasulullah terhadap kafilah dagang Quraisy bukanlah perampokan akan tetapi merupakan permintaan kembali hak-hak kaum Muslimin yang dirampas kaum Musyrikin ketika berhijrah. Bahkan penganiyaan kaum Musyrikin terhadap kaum Muslimin tak sebanding dengan harta yang dibawa Abu Sufyan.<br />
2. Bahwa sebenarnya kaum Musyrikin mengetahui adanya Allah sebagai pencipta, sebagaimana sumpah Abu Jahal dengan nama Allah ketika berangkat berperang. Akan tetapi mereka menyekutukan Allah dengan menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahan dan tempat meminta.<br />
3. Bahwa perang ini merupakan perang besar pertama dan menentukan keberadaan kaum Muslimin selanjutnya, sebagaimana doa Rasul sebelum perang dimulai:” Ya Allah, jika Engkau menghancurkan kelompok ini (yakni kaum Muslimin), maka engkau tak akan lagi disembah untuk selama lamanya”.<br />
4. Allah akan membantu hamba-Nya yang berjuang membela agama-Nya, dan memberi kemenangan walau pun jumlah dan persenjataan kaum Muslimin sangat minim, seperti turunnya Malaikat diturunkan untuk membantu kaum Muslimin.<br />
5.  setelah kita melihat beratnya perjuangan Rasul dan para sahabatnya dalam membela agama Allah, maka selayaknya kita sebagai penerus umat Islam juga berjuang membela agama ini dengan mengamalkan perintah Allah serta perintah Rasul-Nya, dan  menjaga agama ini dari noda-noda syirik dan hal-hal yang baru yang tidak ada tuntunannya dari Rasul. Dal hal itu juga merupakan bentuk penghargaan kita kepada mereka.<br />
[Abdurrahman Muttaqin]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nashihah.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nashihah.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nashihah.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nashihah.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nashihah.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nashihah.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nashihah.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nashihah.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nashihah.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nashihah.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nashihah.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nashihah.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nashihah.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nashihah.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nashihah.wordpress.com&amp;blog=6686808&amp;post=98&amp;subd=nashihah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nashihah.wordpress.com/2009/09/21/perang-badar-awal-kemenangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085ef2092e4e85b9d6b6c48519042383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nashihah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tujuan Hidup</title>
		<link>http://nashihah.wordpress.com/2009/09/21/tujuan-hidup/</link>
		<comments>http://nashihah.wordpress.com/2009/09/21/tujuan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 08:55:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nashihah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nashihah.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya pujian hanya milik Allah. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah, keluarga beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau. Para pembaca yang budiman, semoga Allah Ta&#8217;ala senantiasa membimbing dan memberi taufiq kepada kita untuk dapat mentaati-Nya. Sesungguhnya kehidupan kita di alam ini hanyalah sementara, tidak kekal selamanya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman yang artinya: “Setiap yang bernyawa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nashihah.wordpress.com&amp;blog=6686808&amp;post=96&amp;subd=nashihah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya pujian hanya milik Allah. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah, keluarga beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau.<br />
Para pembaca yang budiman, semoga Allah Ta&#8217;ala senantiasa membimbing dan memberi taufiq kepada kita untuk dapat mentaati-Nya.<br />
Sesungguhnya kehidupan kita di alam ini hanyalah sementara, tidak kekal selamanya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman yang artinya: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Al-Ankabut: 57)<span id="more-96"></span> dan “Hanya kepada-Nya kamu semua akan kembali. Itu merupakan janji Allah yang benar.” (QS. Yunus: 4).<br />
Dan keberadaan kita di dunia ini bukanlah untuk kesia-siaan, bukan pula tiada guna atau tanpa tujuan. Kita diciptakan bukan hanya sekedar untuk hidup dan bernafas, kemudian menikmatinya hingga datang ajal menjemput lalu kita mati seperti matinya makhluk yang tiada diperhitungkan setiap perbuatan yang dilakukan. Bukan !!.. Bukanlah demikian!!. Allah  Jalla wa ‘Ala berfirman yang artinya: “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (setelah ia diciptakan)?” (QS. Al-Qiyamah: 36). Dan “Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian hanya untuk kesia-siaan dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami (untuk diminta pertanggungjawaban)”. (QS.Al-Mukminun: 115).<br />
Sungguh, kita ada dan hidup di dunia adalah untuk sebuah tugas yang mulia, untuk tujuan yang agung, mengemban amanat ilahi yang suci. Tugas dan tujuan tersebut adalah beramal dan amal yang paling utama adalah TAUHID; yaitu mentauhidkan Allah Ta&#8217;ala dengan beribadah dan menyembah hanya kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya. Allah Tabaroka Wa Ta&#8217;ala berfirman yang artinya: “Dan tidakklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah (beribadah hanya) kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzaariyat: 56).<br />
Syaikh Muhammad At-Tamimi berkata tentang tafsir penggalan akhir ayat tersebut dalam kitab “Al-Ushul Ats-Tsalatsah”, yang artinya: “Makna ‘Menyembah (beribadah)’ adalah bertauhid.” Beliau juga berkata, ”Perintah Allah yang paling agung adalah TAUHID; yaitu mengesakan (menunggalkan) Allah Ta&#8217;ala dengan beribadah (menyembah hanya kepada-Nya), sementara larangan Allah yang paling besar adalah SYIRIK; yaitu menyembah (beribadah) kepada selain Allah Ta&#8217;ala bersama dengan penyembahannya kepada Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta&#8217;ala yang artinya: ”Dan sembahlah Allah, dan janganlah berbuat syirik kepada-Nya”. (QS. An-Nisaa: 36)”.<br />
Dan ulama menyebutkan makna ibadah sebagai berikut: “Ibadah adalah sebuah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir maupun yang batin”.</p>
<p style="text-align:justify;">Makna Tauhid<br />
Mari sejenak kita mengenal dan membahas sedikit tentang makna tauhid.<br />
Dari sisi bahasa Arab kata Tauhid merupakan akar kata dari kata Wahhada  – Yuwahhidu &#8211; Tauhidan, maknanya adalah menjadikan sesuatu tetap satu (tunggal).<br />
Sedangkan menurut istilah syar’i, tauhid bermakna: mengesakan dan menunggalkan Allah Ta&#8217;ala di dalam perbuatan-perbuatan-Nya, mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, menetapkan bagi-Nya Nama-nama yang indah dan Sifat-sifat yang tinggi lagi mulia, serta mensucikan-Nya dari segala aib, cacat dan kekurangan. Inilah makna tauhid yang benar dan lurus menurut Ahlus-Sunnah Wal-Jama’ah.<br />
Tauhid juga bermakna IKHLAS; yaitu mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Ta&#8217;ala. Oleh karena itu, Kalimat Ikhlas yaitu “LAA ILAAHA ILLALLOH” dikenal juga dengan sebutan Kalimat Tauhid.</p>
<p style="text-align:justify;">Pentingnya Tauhid<br />
Untuk mengetahui secara gamblang akan pentingnya sesuatu maka hal itu bisa dilakukan dengan mengetahui nilai manfaat sesuatu tersebut. Demikian pula dengan melihat kedudukan dan keutamaannya, maka sesuatu tersebut akan tampak bernilai dan berharga serta terasa begitu penting.<br />
Allah Ta&#8217;ala telah menjelaskan tauhid di dalam kitab-Nya yang agung dan nabi-Nya pun sudah menjabarkannya dalam sunnahnya yang mulia, baik dengan sabdanya maupun dengan amal nyata. Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan: “Sesungguhnya seluruh (ayat) Al-Quran adakalanya (mengandung) kabar berita tentang Allah; yaitu tentang nama dan sifat-Nya, dan tentang perbuatan serta perkataan-Nya. Inilah yang disebut dengan Tauhid Ilmi Khobari. Adakalanya pula (AlQuran mengandung) ajakan/dakwah untuk beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan (untuk) meninggalkan sesembahan selain-Nya. Ini dinamakan Tauhid Irodi Tholabi. Dan kadangkala (Al-Quran mencakup) perintah dan larangan (Allah) serta kewajiban mentaati-Nya (di dalam) perintah dan larangan-Nya tersebut. Ini adalah hak dan penyempurna tauhid. Kadangkala pula (Al-Quran berisikan) kabar berita tentang pemuliaan terhadap orang-orang yang bertauhid berupa ganjaran baik yang mereka terima di dunia dan kemuliaan yang mereka raih di akhirat. Ini merupakan balasan/pahala tauhid. (Dan Al-Quran juga menjelaskan) kabar berita tentang pelaku kesyirikan, hukuman apa saja yang akan ditimpakan kepada mereka di dunia dan siksa azab yang akan mereka rasakan di  akhirat. Inilah balasan orang-orang yang keluar dari hukum tauhid”.(Fathul Majid).</p>
<p style="text-align:justify;">Kedudukan Tauhid<br />
Berikut ini sekelumit penjelasan tentang kedudukan tauhid yang disertai dengan dalil-dalil dari Al-Quran da hadits.<br />
1. Sesungguhnya tauhid adalah tugas dan misi dakwah seluruh para rasul. Allah Ta&#8217;ala berfirman yang artinya: “Dan sungguh Kami telah mengutus rasul di setiap umat (untuk mendakwahkan); “Sembahlah Allah dan jauhilah thoghut (sesembahan selain Allah)”. (QS. An-Nahl: 36).<br />
2. Tauhid merupakan perintah pertama dari Allah yang terdapat di dalam Al-Quran dan perintah tersebut tertuju kepada seluruh manusia tanpa terkecuali. Allah Ta&#8217;ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 21 yang artinya: “Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa”. (QS.Al-Baqoroh:21)<br />
3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya dengan tauhid. Ini dibuktikan di dalam sejarah kehidupan beliau. Beliau mendakwahi manusia untuk mentauhidkan Allah Ta&#8217;ala selama 13 tahun di Mekah setelah beliau diutus sebagai rasul. Allah Ta&#8217;ala berfirman yang artinya: “Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! (1). Bangkitlah dan berilah peringatan (kepada manusia)! (2). Dan agungkanlah Tuhanmu! (3)”. (QS.Al-Muddatstsir: 1-3).<br />
Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah menyebutkan tafsir ayat ke-2 dan ke-3: “Makna ‘Bangkitlah dan berilah peringatan’ adalah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) memberi peringatan (kepada manusia untuk berlepas diri) dari kesyirikan. (Dan makna) ‘Agungkanlah Tuhanmu’  yaitu agungkanlah Dia dengan mentauhidkan-Nya”.<br />
4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan shahabat beliau untuk memulai dakwah dengan tauhid sebagaimana perintah beliau kepada Mu’adz bin Jabal tatkala beliau mengirimnya ke negeri Yaman sebagai juru dakwah. Beliau berkata, ”Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum ahli kitab, maka jadikan awal mula yang kau dakwahkan adalah syahadat laa ilaha illallah (kalimat tauhid)”. Dalam riwayat lain disebutkan: “(adalah dakwah) agar mereka mentauhidkan Allah”. (HR. Bukhari dan Muslim)<br />
5. Allah Ta&#8217;ala menciptakan jin dan manusia untuk tujuan tauhid. Allah Ta&#8217;ala berfirman yang artinya: “Dan tidakklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah (beribadah hanya) kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzaariyat: 56)<br />
6. Dan untuk tujuan tauhid pula Allah Jalla Wa ‘Ala mengutus para rasul dan menurunkan kitab.  Dia berfirman yang artinya: “Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasulpun sebelummu melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Aku. Maka sembahlah Aku”. (QS.Al-Anbiya: 25). Dan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan kebenaran, maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya”. (QS. Az-Zumar:2)<br />
7. Tauhid merupakan hak Allah yang agung atas hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka beribadah (menyembah hanya) kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. (HR.Bukhari dan Muslim)<br />
8. Dan tauhid adalah salah satu dari dua syarat yang mendasar agar amalnya diterima di sisi Allah Ta&#8217;ala. Dia berfirman yang artinya: “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan rasul-rasul sebelummu (yaitu): ’Jika kamu berbuat syirik maka terhapuslah amalmu dan kamu termasuk orang-orang yang rugi”. (QS.Az-Zumar: 65)</p>
<p style="text-align:justify;">Keutamaan Tauhid<br />
Di antara keutamaan tauhid yang diraih oleh orang-orang yang merealisasikannya dengan dilandasi dalil Al-Quran dan hadits adalah :<br />
1. Dengan bertauhid dan berlepas diri dari kesyirikan, seseorang akan mendapatkan ampunan dari Allah Ta&#8217;ala. Dia berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa kesyirikan kepada-Nya namun mengampuni dosa di bawah (derajat) kesyirikan bagi orang yang dikehendaki-Nya”. (QS. An-Nisa: 48)<br />
2. Allah Ta&#8217;ala memberikan janji kepada orang-orang yang bertauhid dan menjauhi kesyirikan berupa kekuasaan di muka bumi, keteguhan dalam beragama, dan keamanan bagi mereka. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman yang artinya: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman diantara kalian dan yang beramal sholeh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai, dan Dia sungguh akan menggantikan bagi mereka rasa takut menjadi rasa aman, (dengan syarat) mereka hanya menyembah-Ku tanpa berbuat syirik kepada-Ku sedikitpun. Barangsiapa yang kafir setelah itu maka merekalah orang-orang yang fasiq”.(QS.An-Nur: 55)<br />
3. Orang yang bertauhid dan menghindari kesyirikan adalah orang yang mendapat bimbingan dan hidayah dari Allah Ta&#8217;ala. Dia berfirman yang artinya: “Orang-orang yang beriman (bertauhid) dan tidak mengotori iman (tauhid)nya dengan kezaliman (yaitu kesyirikan), maka mereka memperoleh keamanan dan merekalah orang-orang yang diberi petunjuk (hidayah)”. (QS. Al-An’am: 82)<br />
4. Tauhid merupakan sebab masuknya sesorang ke dalam surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan ia mengilmui (mengetahui dan mengamalkan tuntutan) ‘laa ilaha illallah’ (bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah)  pasti masuk surga (HR. Muslim)<br />
5. Orang yang bertauhid akan meraih keberuntungan yang hakiki di dunia maupun di akhirat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Wahai manusia ucapkanlah ‘laa ilaha illallah’ (disertai dengan melaksanakan tuntutannya) niscaya kalian akan beruntung”.(HR. Ahmad dan Thabrani)<br />
6. Tauhid seseorang mampu menghalanginya dari masuk ke dalam neraka atau kekal di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah mengharamkan (menghalangi)  untuk masuk neraka bagi orang yang menyatakan ‘laa ilaha illalloh’ dengan ikhlas hanya mengharap wajah Allah”.(HR. Bukhari dan Muslim)<br />
Akhirnya, kita mengharap kepada Allah Ta&#8217;ala agar Dia menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mentauhidkan-Nya dan memberikan kekuatan kepada kita untuk melepaskan diri, keluarga dan masyarakat dari kesyirikan.<br />
Wa shollallohu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa ashhaabihi ajma’iin. Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nashihah.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nashihah.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nashihah.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nashihah.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nashihah.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nashihah.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nashihah.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nashihah.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nashihah.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nashihah.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nashihah.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nashihah.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nashihah.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nashihah.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nashihah.wordpress.com&amp;blog=6686808&amp;post=96&amp;subd=nashihah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nashihah.wordpress.com/2009/09/21/tujuan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085ef2092e4e85b9d6b6c48519042383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nashihah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Ilmu Syar’i</title>
		<link>http://nashihah.wordpress.com/2009/09/21/pentingnya-ilmu-syar%e2%80%99i/</link>
		<comments>http://nashihah.wordpress.com/2009/09/21/pentingnya-ilmu-syar%e2%80%99i/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 08:52:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nashihah</dc:creator>
				<category><![CDATA[01. Januari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nashihah.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya milik Allah. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan hanya Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada beliau beserta keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat. Merupakan sesuatu yang tidak diragukan lagi bahwasanya ilmu syar’i adalah sesuatu yang paling dibutuhkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nashihah.wordpress.com&amp;blog=6686808&amp;post=94&amp;subd=nashihah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Segala puji hanya milik Allah. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan hanya Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada beliau beserta keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat.<br />
Merupakan sesuatu yang tidak diragukan lagi bahwasanya ilmu syar’i adalah sesuatu yang paling dibutuhkan dalam kehidupan setiap muslim.<span id="more-94"></span> Sebagaimana tubuh manusia butuh kepada gizi berupa makanan, maka hatinya pun  butuh kepada cahaya iman, dan itu tidak akan didapatkan kecuali dengan ilmu syar’i. Seorang yang memiliki ilmu tentang agamanya akan dapat membedakan mana yang bermanfaat untuk dirinya dan mana yang tidak bermanfaat. Rasulullah shalallahu’alahi wa sallam  bersabda :<br />
”Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan untuknya maka Allah akan pahamkan ia tentang agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Kedudukan dan keutamaan ilmu syar’i</p>
<p style="text-align:justify;">Ilmu syar’i memiliki beberapa keutamaan yang sangat besar baik di sisi manusia maupun di sisi Allah. Diantara keutamaan dan kedudukan yang terdapat dalam ilmu syar’i adalah:<br />
1. Ilmu syar’i mengangkat derajat seorang hamba<br />
Ketahuilah wahai saudaraku, apabila engkau memiliki ilmu dalam urusan agamamu ini maka Allah akan mengangkat derajatmu di sisi-Nya dan di sisi para hamba-Nya meskipun engkau bukanlah seorang anak raja ataupun pejabat. Allah berfirman:<br />
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah  Mahateliti atas apa yang kamu kerjakan.”(Al-Mujadilah:11)</p>
<p style="text-align:justify;">2. Ilmu syar’i adalah warisan para nabi<br />
Rasulullah telah meninggal dunia. Namun demikian, beliau telah meninggalkan suatu warisan yang sangat berharga untuk umatnya. Warisan itu tidak lain adalah ilmu syar’i. Dengan warisan inilah umat islam akan mencapai kejayaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Rasulullah shalallahu’alahi wa sallam  bersabda:<br />
“Barangsiapa menempuh perjalanan dalam rangka menuntut ilmu (syar’i) maka Allah akan bentangkan untuknya jalan diantara jalan-jalan surga. Dan sungguh para malaikat itu merendahkan sayap-sayap mereka bagi orang yang menuntut ilmu karena ridho dengan apa yang ia perbuat. Dan sesungguhnya apa yang ada di langit dan di bumi beserta ikan-ikan di lautan akan memintakan ampunan (kepada Allah) untuk seorang yang berilmu. Dan sesungguhnya keutamaan seorang ahli ilmu atas seorang ahli ibadah laksana keutamaan bulan purnama atas bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidaklah meninggalkan warisan berupa dinar dan dirham, namun mereka memberikan warisan berupa ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya berarti ia telah memperoleh bagian yang besar.”(Hadist riwayat Imam Ahmad dan yang lainnya)</p>
<p style="text-align:justify;">3. Mempelajari ilmu syar’I adalah termasuk ibadah<br />
Menjadikan sebagian besar waktu yang kita miliki untuk mempelajari tentang agama ini bukanlah sesuatu yang sia-sia. Bahkan itu termasuk dari amal sholeh yang dapat mengantarkan seseorang kedalam surga.  Rasulullah shalallahu’alahi wa sallam  bersabda:<br />
“Barangsiapa menempuh perjalanan dalam menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”(HR.Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">5. Ilmu syar’I lebih berharga daripada harta benda<br />
Hal itu dikarenakan ilmulah yang menjagamu dari adzab Allah, sedangkan harta yang engkau miliki menjadikanmu letih dalam menjaganya karena takut kehilangan. Sungguh betapa banyak manusia yang memiliki banyak harta namun hatinya senantiasa dalam kegundahan, ia belanjakan hartanya itu untuk menghilangkan kegundahan yang dirasakannya. Seandainnya saja ia memiliki ilmu syar’i, tentu ia akan mendapatkan ketenangan dalam hatinya.<br />
Wahai saudaraku –semoga Allah merahmatimu-, setelah apa yang engkau baca dari keutamaan-keutamaan ilmu syar’I yang mulia ini, maka aku berharap engkau mengetahui bahwa mempelajari agama Islam yang mulia ini wajib bagi setiap muslim dan muslimah. Karena bagaimana mungkin kita mengetahui apa yang membuat Allah cinta kepada kita sedangkan kita tidak mau mempelajari syariat agama ini?! Maka tumbuhkanlah semangat kalian wahai kaum muslimin untuk menuntut ilmu syar’I dan janganlah kalian dilalaikan oleh musuh Islam dari mempelajari agama kalian. Jangan biarkan syaitan mempermainkan agama kalian dan ia jauhkan kalian dari ilmu yang telah Allah ajarkan melalui lisan rasul-Nya yang mulia. Belajarlah &#8230; belajarlah &#8230; dan sisihkan waktumu untuk hadir dalam majlis ilmu. Engkau dengarkan di sana ayat-ayat Al-Quran dibacakan, sunnah-sunnah Rasulullah diajarkan, dan perkataan-perkataan ulama dijadikan sebagai nasihat dalam keseharian.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau shalallahu’alahi wa sallam  juga bersabda:<br />
“Apabila manusia menemui ajalnya maka terputuslah amalannnya kecuali tiga hal: sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh.”<br />
Sungguh apa yang disabdakan beliau sangatlah patut untuk kita renungkan, karena ketika seseorang telah meninggal berarti ia sudah kehilangan waktu untuk beramal sholeh dan yang dapat ia harapkan hanyalah tiga hal ini. Padahal ketika itu ia sangat butuh kepada amalan yang dapat menyelamatkan dirinya dari adzab Allah. Maka pahala dari harta yang dahulu ia infaqkan akan terus mengalir kepadanya, ilmu yang dia ajarkan kepada manusia akan menjadi simpanan akhiratnya, demikian pula seorang anak yang sholeh akan senantiasa mendoakan ampunan untuk dirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Perjalanan orang-orang mulia</p>
<p style="text-align:justify;">Barangsiapa yang tidak mau untuk merasakan panasnya terik matahari dan keletihan dalam menuntut ilmu syar’i niscaya dirinya tidak akan mendapatkan kemuliaan disisi Rabbnya. Lihatlah apa yang diperbuat Ismail bin ‘Ayyasy ketika mencari ilmu, kemuliaan dan kepemimpinan. Dia berkata, ”Aku mewarisi empat ribu dinar dari ayahku dan aku belanjakan untuk menuntut ilmu.”<br />
Perumpamaan orang yang cinta terhadap ilmu bagaikan orang yang rindu kepada kekasih yang dicintainya, sehingga ia rela untuk membelanjakan harta dan menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu tersebut. Inilah Imam Muhammad bin Ishaq bin Mandah,beliau bepergian dalam rangka menuntut ilmu di saat ia berusia 20 tahun dan ia kembali ke kampung halamannya saat umurnya telah mencapai 65 tahun. Beliau habiskan umurnya selama 45 tahun untuk menghadiri majelis-majelis ilmu dan belajar dari 1700 orang guru. Tatkala ia kembali ke kampungnya, ia mengajarkan ilmu yang didapatkannya kepada manusia.<br />
Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari pergi menuntut ilmu disaat usianya dua belas tahun. Ayahnya selalu memperhatikan biaya hidupnya dari waktu ke waktu. Beliau pernah menuturkan, ”Pernah suatu waktu kiriman ayahku terlambat, maka aku membelah dua lengan bajuku dan menjualnya serta menjadikan uang yang kudapat sebagai biaya menuntut ilmu.”<br />
Imam Ibnul Jauzi menceritakan kepada anaknya tentang kisahnya dalam menuntut ilmu, ia berkata, ”Ketahuilah wahai anakku, ayahku adalah seorang yang kaya raya dan tatkala meninggal ia meninggalkan warisan yang banyak. Maka di saat aku telah mencapai baligh, mereka memberikan kepadaku dua puluh dinar dan dua buah rumah dan mereka berkata kepadaku, `Inilah warisan ayahmu`. Akupun mengambil beberapa dinar dan kugunakan untuk membeli beberapa kitab ilmu. Aku pun menjual dua rumah itu dan hasilnya kugunakan untuk menuntut ilmu. Ayahmu ini belum pernah terhina dalam menuntut ilmu.”<br />
Inilah sedikit sejarah perjalanan para ulama dalam menuntut ilmu syar’i. Mereka mengetahui bahwasanya kehidupan dunia hanyalah sebentar apabila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal. Mereka mengetahui bahwa tidak akan mungkin kebahagiaan di surga diperoleh kecuali dengan ketaatan kepada Allah. Mereka pun mengetahui bahwa ketaatan tidak akan mungkin terlaksana kecuali dengan mengetahui apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan berupa amal-amal yang sholeh. Maka mereka bersemangat untuk meraih keridhoan Allah dengan mempelajari agama yang mulia ini berdasarkan Al-Quran dan sunnah Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam di atas pemahaman para sahabat beliau. Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam bersabda, “Perumpamaan petunjuk dan ilmu  yang aku diutus untuk membawanya adalah seperti hujan  deras yang jatuh ke bumi. Maka di antara bagian permukaan bumi itu ada yang bagus sehingga dapat menyerap air lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang begitu banyak. Dan diantaranya juga ada yang tandus namun dapat menahan air sehingga Allah memberikan manfaat kepada manusia dengan air tersebut, mereka minum dan mengairi tanaman mereka (dengan air tersebut). Dan di antara bagian bumi itu ada juga yang tidak bisa menahan air dan tidak bisa pula menumbuhkan rerumputan. Itulah perumpamaan bagi orang yang memahami agama Allah dan dapat mengambil manfaat dari (ilmu dan petunjuk) yang Allah mengutusku untuk menyampaikannya, sehingga dia mengetahui (agama Allah) dan mengajarkannya (kepada manusia). Dan begitupula orang yang tidak menghiraukan dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku bawa.”(HR. Bukhari dan Muslim)<br />
Begitulah keutamaan yang dimiliki para ulama. Mereka mengajarkan kebaikan kepada manusia berdasarkan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka menasehati umat agar kembali ke jalan Allah dan meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Mereka mengajak manusia untuk menjadi mulia dengan memiliki ilmu tentang Al-Quran dan Sunnah yang merupakan warisan nabi kita yang mulia shallallahu’alahi wa sallam.<br />
Namun apa yang terjadi pada generasi umat islam sekarang ini?! Kemana semangat mereka untuk menimba ilmu dari para ulama. Jalan untuk mendapatkan ilmu telah diberikan kemudahan oleh Allah. Mereka tidak perlu melewati gurun ataupun menyeberangi lautan untuk mendengar hadits Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam.Tapi sungguh musuh-musuh Islam telah melalaikan mereka dari menuntut ilmu. Iblis telah berhasil menjerat mereka dalam kemaksiatan. Generasi muda umat ini sebagian besarnya lebih suka bersenang-senang dengan kehidupan dunia, mereka merasa tidak perlu untuk mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah  shalallahu’alahi wa sallam . Ini merupakan sesuatu yang menyedihkan bagi umat ini.<br />
Namun ketahuilah bahwa akan senantiasa ada dari umat ini orang-orang yang berpegang teguh kepada agama Allah. Merekalah orang-orang yang senantiasa mempelajari Kitabullah dan Sunnah Rasul dengan benar. Maka semoga Allah jadikan kita termasuk dari mereka. Aamin.<br />
Untuk mengakhiri tulisan ini maka aku berdoa hanya kepada Allah agar Ia senantiasa melapangkan hatimu untuk mempelajari ilmu syar’i dan mengetahui Islam dengan benar. Sesungguhnya Allah-lah yang membolak-balikkan hati manusia.<br />
Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad beserta para sahabat dan pengikutnya hingga hari kiamat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nashihah.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nashihah.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nashihah.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nashihah.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nashihah.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nashihah.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nashihah.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nashihah.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nashihah.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nashihah.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nashihah.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nashihah.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nashihah.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nashihah.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nashihah.wordpress.com&amp;blog=6686808&amp;post=94&amp;subd=nashihah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nashihah.wordpress.com/2009/09/21/pentingnya-ilmu-syar%e2%80%99i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085ef2092e4e85b9d6b6c48519042383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nashihah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bedah Buku &#8220;Mungkinkah Sunnah &amp; Syiah Bersatu&#8221;</title>
		<link>http://nashihah.wordpress.com/2009/03/28/40/</link>
		<comments>http://nashihah.wordpress.com/2009/03/28/40/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 22:59:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nashihah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nashihah.wordpress.com/2009/03/28/40/</guid>
		<description><![CDATA[Hadirilah bedah buku “Mungkinkah Sunnah &#38; Syiah Bersatu“ ‘ Hari : Ahad/ 29 Maret 2009 Jam : 07.30 WIB Tempat : Masjid Al-Furqon (Kompleks Yayasan Al-Furqon) Jl. Trunojoyo 53 Jember(Depan Radio Akbar FM) Pemateri : Ustadz Anwar Zein (Dai dari Tulung Agung, Jawa Timur) Gratis Buku Mungkinkah Sunnah &#38; Syiah Bersatu<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nashihah.wordpress.com&amp;blog=6686808&amp;post=40&amp;subd=nashihah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#ffcc00;">Hadirilah bedah buku</span></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#00ffff;">“</span><strong><span style="color:#00ffff;">Mungkinkah Sunnah &amp; Syiah Bersatu</span></strong><span style="color:#00ffff;">“</span></p>
<p>‘</p>
<p>Hari : <strong><span style="color:#339966;">Ahad/ 29 Maret 2009</span></strong></p>
<p>Jam : <strong><span style="color:#339966;">07.30 WIB</span></strong></p>
<p>Tempat : <strong><span style="color:#339966;">Masjid Al-Furqon</span><em> </em></strong><em>(Kompleks Yayasan Al-Furqon)</em><strong> <span style="color:#339966;">Jl. Trunojoyo 53 Jembe</span><span style="color:#339966;">r</span></strong><em>(Depan Radio Akbar FM)</em></p>
<p>Pemateri : <strong><span style="color:#339966;">Ustadz Anwar Zein</span> </strong>(<em>Dai dari Tulung Agung</em>, Jawa Timur)</p>
<p>Gratis Buku<strong> <em>Mungkinkah Sunnah &amp; Syiah Bersatu</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nashihah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nashihah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nashihah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nashihah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nashihah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nashihah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nashihah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nashihah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nashihah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nashihah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nashihah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nashihah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nashihah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nashihah.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nashihah.wordpress.com&amp;blog=6686808&amp;post=40&amp;subd=nashihah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nashihah.wordpress.com/2009/03/28/40/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/085ef2092e4e85b9d6b6c48519042383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nashihah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
